Biografi Sukanto Tanoto – Berinvestasi Lebih dari 10 negara

Sukanto Tanoto merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia. Ia adalah pengusaha sukses yang mulai go Asia. Tanoto merupakan alumni Indonesia Executive Management Program, Insead, Prancis (1980), Harvard Business School, AS (1982) dan Wharton Fellows Program (2001). Melalui perusahaannya, Tanoto telah melakukan ekspansi bisnisnya di lebih dari 10 negara. Tanoto merupakan Chairman dan CEO PT Raja Garuda Mas International dan Komisaris Utama PT Inti Indorayon Utama.

Kedua perusahaan tersebut dikenal sebagai salah satu perusahaan pemimpin dalam produksi minyak kelapa sawit dan pulp and paper di dunia. Salah satu produk kertasnya yang bernama Paper One beredar di 51 negara. PT Raja Garuda Mas International beroperasi di Cina, Brasil, Finlandia, Malaysia dan Filipina dengan 50.000 lebih karyawan.

Tak hanya itu, Tanoto memiliki perusahaan dan kantor pemasaran di Asia, Eropa, Australia, dan Amerika seperti di Singapura, Hong Kong, Jepang, India, Korea, Swiss, Australia, dan Amerika Serikat. Tak hanya itu, Tanoto adalah salah satu pengusaha dari Asia yang berhasil masuk ke Bursa Efek New York, Amerika Serikat.

Selain PT Raja Garuda Mas International dan PT Inti Indorayon Utama, Tanoto juga memiliki sejumlah perusahaan lainnya, baik di dalam negeri maupun luar negeri, yaitu Pacific Oil & Gas Minyak, Asia Pacific Resources International Holdings Ltd, Asian Agri, PT Riau Andalan Pulp and Paper, PT Riau Andalan Kertas, PT Riau Prima Energi, PT Hari Sawit Jaya, PT Inti Indosawit Subur, PT Dasa Anugerah Sejati, PT Raja Garuda Mas Sejati, PT Saudara Sejati Luhur, PT Gunung Melayu, dan PEC Tech Rekayasa.

Tidak hanya mendirikan perusahaan, Tanoto juga membeli saham beberapa perusahaan seperti Sateri Oy, sebuah pabrik di Finlandia pada tahun 199$. Satori Oy merupakan anak perusahaan Sateri International. Melalui Sateri, Tanoto membeli Bahia Pulp di Brasil seharga $91 juta. Di Brasil, Tanoto juga membeli saham Klabin Bacell SA pada tahun 2003, Di Cina, Tanoto membeli saham Shandong Rizhao SSYMB Pulp and Paper Co, Ltd. Tanoto juga mengembangkan Sateri Jiang Xi dan Pacific Oil & Gas di Cina.

Sukanto Tanoto lahir pada tanggal 25 Desember 1949 di Belawan, Sumatra Utara dengan nama asli Tan Kang Hoo dari sebuah keluarga berketurunan Tionghoa. Ia berasal dari keluarga yang sederhana. Tanoto merupakan anak sulung dari 7 bersaudara. Ayahnya bernama Amin Tanoto. Tanoto kecil menghabiskan masa kecil seperti anak-anak pada umumnya. Ia menamatkan Sekolah Dasar pada tahun 1960 di Belawan dan SMP pada tahun 1963 di Medan. Tiga tahun kemudian, Tanoto berhasil tamat dari SMA di Medan.

Setelah tamat SMA, Tanoto ingin melanjutkan kuliah di bidang kedokteran. Namun, karena mengalami kesulitan ekonomi, Tanoto harus mengurungkan niatnya. Keadaan membuatnya untuk tidak melanjutkan pendidikan.

Tanoto sudah mulai membantu orangtuanya sejak ia bersekolah, karena ayahnya sakit stroke, la membantu jualan minyak, bensin, dan peralatan mobil. Insting bisnis Tanoto semakin terasah karena hobinya yang suka membaca. Tanoto mulai belajar keterampilan berbisnis. Tanoto memutuskan pindah ke Medan untuk menjadi kontraktor dan pemasok suku cadang untuk Pertamina.

Disamping itu, ia juga beijualan onderdil mobil dan mengembangkannya menjadi general contractor & supplier. Tanoto yang saat itu berusia 20 tahun bekeija membangun rumah, memasang AC, pipa, traktor, dan membuat lapangan golf di Prapat, Untuk kelancaran bisnisnya, ia sampai ke Sumbawa dan Lampung untuk mencari bahan bangunan.

Pada tahun 1972, Tanoto memutuskan untuk mendirikan CV Karya Pelita, sebuah perusahaan kayu. Ide mendirikan perusahaan kayu ini didapat Tanoto ketika tidak ditemukannya lagi impor kayu lapis dari Singapura. Tanoto menangkap peluang besar ini di saat belum ada orang yang memproduksi kayu lapis. Setahun kemudian, perusahaan tersebut berubah menjadi PT Raja Garuda Mas, yang memproduksi kayu lapis. Tanoto yang duduk sebagai direktur utama memasarkan produk kayu lapisnya, Polyplex ke Eropa, Inggris, dan Timur Tengah.

Tak lama kemudian, Tanoto mendirikan Forindo Pte Ltd di Singapura, PT Bina Sarana Papan dan PT Inti Indosawit Subur pada 1980 yang memiliki kebun kelapa sawit seluas 8.000 hektare dengan 2.000 karyawan. Pada tahun 1983, Raja Garuda Mas mengakuisisi Bimoli. Tanoto juga mendirikan Pec-Tech pada tahun yang sama.

Tanoto mendirikan Asian Agri pada tahun 1989 yang mengelola 150 ribu hektare kelapa sawit, karet, dan kakao di Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Thailand. Ia juga mengambil alih saham United City Bank pada tahun 1987, membeli perkebunan kelapa sawit National Development Corporation Guthrie di Mindanao, Filipina, dan electro Magnetic di Singapura.

Sejak saat itu, Tanoto semakin giat mengembangkan bisnisnya hingga ia sekarang dikenal sebagai raja sawit dan pulp. Disinyalir pada Maret 2013, kekayaan Tanoto mencapai 2,8 miliar dolar AS dan asetnya mencapai 12 miliar AS. Selain berhasil dalam bisnisnya, Tanoto juga pernah mengalami rugi dan tersandung utang setelah terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1997. Tanoto terjerat utang lebih dari Rp.3 triliun. Tanoto tetap bertahan hingga bisnisnya tidak hanya bertahan sampi sekarang, tetapi semakin luas ke berbagai negara.

Tanoto menikah dengan Tinah Bingei. Dari pernikahannya, mereka memiliki 4 orang anak. Tanoto tidak pernah berhenti belajar dan bermimpi. Mimpinya adalah sukses memasuki dan bersaing di Asia. Untuk mendukung mimpinya itu, ia pindah bersama keluarganya ke Singapura pada tahun 1997. Menurutnya, Singapura adalah tempat yang strategis untuk memperluas bisnisnya.

Atas prestasi dan dedikasinya melalui Tanoto Foundation, Tanoto meraih penghargaan Dean’s Medal dari Wharton School Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat (2012). Tanoto juga aktif dalam sejumlah organisasi seperti Young President Organization (YPO), Mercantile Club, Hilton Executive Club, Indonesia Financial Executive Association (IFEA), Canadian Pulp & Paper, Association (CPPA), World Presidents Organization (WPO), Chief Executive Organization dan Prince of Wales Business Leaders Forum.

Beberapa prinsip sukses Sukanto Tanoto, yaitu :

Pertama, tak pemah berhenti belajar. Selain memelihara kegemaran membacanya, Tanoto juga senang belajar dan mengikuti kursus. Ia pernah belajar di Paris, Inggris, Tokyo dan Amerika untuk menambah pengetahuannya. “Kalau di bisnis, kunci sukses saya : think, act, learn, baca, dengar, dan lihat,” begitu kata Tanoto. Prinsip inilah yang membawa Tanoto menjadi raja bisnis.

Kedua, tidak malu bertanya. Tanoto mengatakan: “kalau saya tidak tahu, saya tanya. Saya juga tidak merasa sungkan menceritakan kegagalan saya”.

Ketiga, do the right thing, do the thing right. Do the right thing merupakan pedoman pada pola manajemen dan do the thing right merupakan penekanan pada action.

Keempat, bisnis adalah bisnis. “Prinsip saya, bisnis dan politik tak boleh campur. Bisnis, ya, bisnis,” kata Tanoto.

Kelima, kerjakan sebelum orang mengerjakan. Ini adalah strategi kompetisi Tanoto. Ia selalu melihat peluang yang belum tercium oleh orang lain dan segera mengambil peluang itu dan mengembangkannya secara maksimal hingga ia menjadi aktor utama dalam bidang tersebut.

Keenam, bisnis harus berorientasi pada pengembangan masyarakat. “Aspek terpenting dari program pengembangan masyarakat kami adalah untuk melengkapi masyarakat dengan keahlian, agar mereka dapat mandiri. Setiap orang seharusnya diberikan kesempatan yang sama untuk meraih potensi tertinggi mereka”, ujar Tanoto. “Saya tidak kasih ikan, tetapi saya ajari mancing, itu yang kita kerjakan. Mimpi saya, kalau saya dapat seratus pengusaha itu jadi miliarder, saya senang”, imbuh Tanoto. Dalam kesempatan lain Tanoto juga mengatakan, “Saya sangat percaya bahwa dalam bisnis, perusahaan hanya dapat bertahan dan sukses jika mengikuti beberapa prinsip berikut, di antaranya adalah bisnis itu baik untuk masyarakat, baik untuk negara, dan baik untuk perusahaan sendiri.”

Ketujuh, belajar dari kesalahan. Salah satu perusahaannya sempat ditentang masyarakat dan aktivis lingkungan hidup karena ditengarai limbahnya mencemari 1 lingkungan. Beberapa perusahaannya juga tersandung kasus. Akan tetapi, itu semua menjadi pelajaran bagi Tanoto untuk lebih baik lagi dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.