Biografi Jafar bin Abi Thalib ra. – Juru Bicara Handal dan Pahlawan Perang Mutah

Dari namanya saja, sudah bisa ditebak siapa tokoh sahabat satu ini. Ya, dia putra Abu Thalib, paman Rasulullah. Berarti dia juga sepupu Rasulullah. Wajar kalau banyak yang menilainya sangat mirip dengan Rasulullah. Tampilan fisik, keberanian, dan akhlaknya sangat mirip. Dia memiliki sifat sangat pemurah, tidak takut miskin. Untuk sifatnya yang satu ini Rasulullah sampai memberinya gelar ‘Penyantun Orang-Orang Miskin.

Di awal kemunculan Islam, Jafar mendatangi Rasulullah dan menyatakan keislamannya. Dalam beberapa riwayat menyebutkan bahwa Jafar menerima Islam sebelum Rasulullah memulai dakwah di rumah Arqam bin Arqam.

Kegembiraan Rasulullah berlipat karena istri Jafar, Asma binti Umais pun masuk Islam.

Melihat reaksi kaum musyrik Quraisy yang mulai mengganggu, mengancam, dan menyiksa para sahabat, Rasulullah pun memilih orang-orang yang akan diberangkatkan ke Habasyah (Ethiopia). Jafar tanpa ragu mengajukan diri dan istrinya untuk ikut. Di sana keduanya tinggal hampir selama 3 tahun dan dikaruniai tiga orang putra Muhammad, Abdullah, dan Auf.

Kepahlawan Jafar terlihat sejak dia menjadi juru bicara kaum mukminin di hadapan Raja Najasyi. Waktu itu negeri Habasyah terkenal memiliki raja yang adil dan sering memberi perlindungan kepada orang-orang yang lemah. Benar saja, saat rombongan kaum mukminin datang ke Habasyah, Raja Najasyi pun memberikan perlindungan dan dijamin keamanan tinggal di negerinya.

Hal itu membuat kaum Quraisy yang masih musyrik tidak tenang. Segera mereka mengirim Abdullah bin Abu Rabi’ah dan Amru bin Ash (saat itu belum beriman) dengan membawa hadiah-hadiah mahal untuk para pendeta serta Raja. Para pemuka Quraisy menyuruh utusan mereka menghadap para pendeta dulu sebelum menemui Raja Najasyi. Tujuannya agar mereka mendapat dukungan dari para pendeta saat berhadapan dengan sang raja. Karena sang raja terkenal sebagai penganut agama Nasrani yang taat dan selalu membuka mata, hati, dan telinganya dalam mendengar kebenaran.

Setelah bertemu para pendeta, kedua utusan itu terus memberi masukan dan hasutan agar kebencian muncul. Juga agar para pendeta mengusulkan pengusiran bagi kaum mukmin yang baru saja mendapat perlindungan. Para pendeta menerima rencana kaum Quraisy dan berjanji akan berapa di pihak mereka.

“Baginda Raja yang mulia, telah datang ke negeri Tuan orang-orang bodoh dari kaum kami. Mereka adalah orang-orang yang sudah keluar dari agama nenek moyang kami, tapi tidak akan masuk dalam agama yang dianut oleh Paduka, Kami diutus oleh para pembesar kaum kami dengan tujuan meminta kebijaksanaan Paduka, agar mengembalikan mereka pada kaum mereka,” ujar utusan kaum Quraisy.

“Benar, Tuanku. Mereka berasal dari kaum yang sama. Pastinya para pemimpin kaum mereka lebih tahu tindakan apa yang patut diterima oleh orang-orang ini. Maka, kembalikan saja mereka pada kaumnya,” seorang pendeta berbicara membela utusan kaum Quraisy.

Keadilan yang ada pada diri Raja Najasyi muncul. Sang raja pun mengundang kaum mukminin ke istana. Raja Najasyi mempersilakan kedua belah pihak untuk beradu argumen hingga bisa terlihat siapa yang salah, siapa yang benar. Di sinilah, jafar yang sudah dipilih oleh kaum mukmin yang berhijrah, maju sebagai juru bicara.

“Demi Allah…, aku tidak akan mengeluarkan mereka sebelum mendapat penjelasan apa pun. Katakanlah, agama apa yang membuat kalian meninggalkan bangsa kalian. Tetapi tidak tertarik pada agama kami?” Perhatian Najasyi tertuju pada kaum pihak kaum mukminin.

Dengan kecerdasan, ketenangan, serta keimanan yang memancar dari wajahnya Jafar mulai menyampaikan penjelasannya. “Paduka Raja yang mulia, dahulu kami memang orang-orang bodoh, Kami menyembah berhala, memakan bangkai, memutuskan tali silaturrahmi, melakukan pekerjaan-pekerjaan keji seperti membunuh bayi perempuan yang baru lahir, menyakiti tetangga dan tidak memberi perlindungan pada orang yang meminta perlindungan, yang berkuasa dan kuat menindas yang lemah. Lalu. Allah Swt, mengutus seorang Rasul dari bangsa kami sendiri. Kami sangat mengenalnya, mengetahui asal-usulnya dengan baik, mengetahui ketulusannya, kejujurannya dan kesucian jiwanya. Rasul itu mengajak kami untuk mengesakan Allah SWT, mengabdi pada-Nya dan meninggalkan berhala-berhala yang selama ini kami sembah.” Jafar menjawab dengan jelas dan penuh kete¬nangan.

“Paduka Raja, Rasulullah pun menyuruh kami agar berbi¬cara benar, menunaikan amanah, menyambung silaturahmi, berbuat baik pada tetangga, tidak melanggar apa yang dilarang oleh Allah, dan tidak membunuh orang lain. Kami juga dilarang berbuat keji, berbohong, memakan harta anak yatim, dan menuduh wanita baik-baik berbuat keji. Kami mempercayai dan mengikutinya. Lalu kaum kami marah. Mereka mulai menyiksa kami hanya agar kami kembali pada agama kami yang dulu, kembali menyembah berhala-berhala, dan kembali pada kebodohan.” Kata-kata jafar menyentuh nurani Raja Najasyi.

Jafar pun kembali menambahkan, “Penyiksaan itu Sudah melampaui batas kemampuan kami untuk menanggungnya sehingga membuat kami tidak bisa menjalankan agama kami. Rasulullah pun meminta kami untuk pergi ke negeri Tuan. Kami berharap Tuan memberikan perlindungan pada kami, karena kami tahu Tuan bukanlah raja yang zalim.”

Raja Najasyi menelaah kata-kata Jafar. “Apakah Rasul kalian menerima wahyu?”

“Ya…!”Jafar menjawab dengan tegas.

“Bacakan padaku!”

Jafar pun membacakan beberapa ayat dari surat Maryam. Mendengar Al-Qur’an dibacakan menangislah Raja Najasyi, demikian juga dengan para pendetanya.

“Sungguh, apa yang Rasul kalian sampaikan dan apa yang di bawa oleh Isa putra Maryam adalah satu sumber,” ujar Najasyi pada kaum mukmin.

“Kembalilah kalian pada kaum kalian, demi Allah, aku tidak akan menyerahkan mereka pada kalian,” ujar Raja pada Abdullah dan Amru bin Asih.

Tapi Amru bin Ash tidak mau menerima kekalahan. Apalagi dia terkenal sebagai orator yang ulung, la terus berpikir dan tiba-tiba berkata pada temannya, “Besok aku akan kembali. Aku akan mengatakan apa yang bisa membuatnya murka dan menjatuhi pengikut Muhammad dengan hukuman mati.”

Mendengar perkataan Amru bin Ash, temannya justru khawatir dan berkata, “Jangan lakukan, bukankah mereka masih memiliki tali kekerabatan dengan kita. Sekali pun mereka berseberangan jalan, mereka masih keluarga kita.”

Amr bin Ash tidak menghiraukan pendapat rekannya. “Besok aku akan mengatakan pendapat mereka tentang Isa putra Maryam pada Najasyi. Bukankah mereka mengatakan bahwa Isa adalah manusia biasa, sama seperti manusia yang lain?”

Keesokan harinya, Amru bin Ash berhasil membuat istana Najasyi gaduh. Para pendeta tersulut amarahnya mendengar perkataan Amru bin Ash tentang pandangan kaum Islam pada Isa putra Maryam.

Sekali lagi Najasyi memanggil Jafar dan rombongannya untuk menghadap. “Jafar, katakan pendapat kalian tentang Isa?”

Dengan mengucap bismillah, jafar pun berdiri. “Akan kami katakan sesuai apa yang kami dengar dari Nabi kami. Sesungguhnya Isa adalah hamba dan utusan Allah. Dia adalah kalimat Allah yang ditiupkan kepada Maryam. Dia adalah ruh dari-Nya.”

Najasyi membenarkan, apa yang diucapkan la’far. “Begitu pula yang aku tahu, Apa yang Nabi kalian katakan sama dengan penjelasan Isa tentang dirinya. Maka tinggallah kalian di sini dengan aman.”

“Kembalikan hadiah-hadiah yang sudah mereka kirim. Aku tidak membutuhkannya. Demi Allah, Allah tidak pernah menerima uang sogokan dariku ketika Dia mengaruniakan tahta ini padaku. Karena itu aku juga tidak menerima sogokan,” titah Najasyi sambil menunjuk kedua utusan kaum Quraisy.

Pada tahun ke-7 setelah hijrah, Rasulullah membawa 1.000 pasukan dan 200 ekor kuda ke Khaibar. Allah SWT sudah menjanjikan kemenangan kaum mukminin di peperangan ini. Dan benar saja, setelah berhasil mendobrak benteng Khaibar yang kokoh, maka pasukan Islam berhasil pulang dengan meraih kemenangan, Rasulullah dan masyarakat Madinah tengah bergembira karena kemenangan itu. Allah memberi tambahan kegembiraan pada Rasul dengan kedatangan serombongan orang dari Habasyah. Saat melihat Jafar, Rasulullah langsung memeluk sepupunya. “Aku tidak tahu mana yang lebih menggembirakan, kemenangan di Khaibar ataukah kembalinya Jafar.”

Jafar dengan kebeningan jiwanya ikut merasa gembira mendengar sepak terjang sahabat-sahabatnya di perang Badar, Uhud, dan peperangan lainnya. Air matanya langsung jatuh bercucuran mengenang teman-teman seangkatannya yang sudah mendahuluinya menemui kesyahidan. “Yaa Allah, kapan giliranku datang?” Pertanyaan itu terngiang dalam benak Jafar.

Dan saat panggilan perang Mutah diperdengarkan, Jafar pun tidak melewatkan kesempatan ini. Dia mempersiapkan diri sebaik mungkin, Jafar paham betul menghadapi tentara Romawi yang profesional ditambah taktik perang mumpuni adalah tantangan tersendiri. Tapi itu tidak membuatnya mundur kala ditunjuk sebagai satu dari tiga panglima perang oleh Rasulullah.

Perang besar tak terelakkan. Zaid bin Haritsah maju dengan membawa bendera umat Islam. Jafar pun maju dengan gagah berani. Saat dilihatnya bendera hampir jatuh dari tangan kanan Zaid, Jafar sigap menyambar. Dia berjanji dalam hati akan menjaga bendera itu agar tidak sampai menyentuh tanah.

Lihatlah, Jafar yang bergerak tanpa kenal takut. Dia terus menebas musuh dengan pedangnya. Musuh pun berjatuhan tak terhitung. Melihat sepak terjang Jafar, panglima Romawi pun memutuskan untuk mengepungnya, Jafar tidak gentar terus maju. Hingga tangan kanannya tertebas pedang musuh. Tangan kirinya sigap menangkap bendera. Bahkan ketika tangan kirinya pun kena tebas pedang, dia memeluk bendera dengan kedua pangkal lengannya.

Di perang inilah Jafar menemui kesyahidan. Dia kembali pada Allah setelah memenuhi janjinya menjaga panji-panji Is¬lam. Allah SWT, mengabarkan gugurnya Jafar pada Rasulullah. Kesedihan tak bisa disembunyikan oleh Rasulullah, beliau pun menangis. Setelah itu Rasulullah pergi ke rumah sepupunya. Saat melihat anak-anak jafar, beliau langsung memeluk dan menciumi mereka.

Rasulullah menghibur keluarga jafar, “Aku telah melihatnya di surga. Dia mengenakan sayap yang masih ada darahnya dan bertaburkan bintang kehormatan.”

Bertambah satu lagi gelar untuk pahlawan perang Mutah ini. Jafar si burung surga atau orang yang bersayap dua di surga. Subhanallah