Biografi Hamzah bin Abdul Muthalib ra. – Singa Allah

Sejak awal, Hamzah tidak meragukah apa yang diucapkan oleh keponakannya, Muhammad. Sebagai paman dan juga saudara sesusuan, Hamzah sangat mengenal keluhuran sifat dari Muhammad. Sejak kecil, Muhammad sudah menunjuk­kan keistimewaan. Tidak pernah sekali pun dia melihat kepo­nakannya berbohong, atau ikut serta menyembah berhala. Sungguh, Muhammad adalah manusia yang terlindungi dari kemusyrikan.

Kini, saat dia berada di tengah pembesar-pembesar Quraisy, Hamzah menyadari sesuatu. Bahwa dakwah Mu­hammad sudah membuat masyarakat Mekkah gelisah. Bagi yang meyakini dakwahnya, harus siap dengan semua penganiayaan. Bagi yang menolak, maka hatinya penuh kebencian seperti yang diperlihatkan oleh Abu jahal dan re­kan-rekannya.

“Kenapa kalian terlalu membesar-besarkan masalah ini? Bukankah selama ini kalian menilainya sebagai manusia yang baik dan jujur?” Ungkap Hamzah saat melihat para pembesar Quraisy terus membahas Muhammad.

“Ini bukan persoalan sepele wahai putra Abdul Muthalib. jangan sampai kita terlambat menghentikan dakwah kepona­kanmu. Kalau tidak, kita akan melihat semua adat dan keper­cayaan nenek moyang kita akan hilang” Abu Jahal menyahut dengan cepat.

“Atau jangan-jangan sekarang kamu sudah memihaknya?” Abu jahal menatap Hamzah tajam.

Saat itu Hamzah tidak memberi tanggapan. Dia terus mengikuti apa yang diperbincangkan Abu jahal dan teman-temannya. Sesekali Hamzah mendengar gerutuan dan di lain waktu dia mendengar kemarahan yang jelas pada pembica­raan mereka. Saat itulah Hamzah mulai menyadari sesuatu. Bahwa dakwah keponakannya menyangkut hal yang sangat penting. Karena itu, Hamzah mulai fokus memperhatikan se­pak terjang keponakannya.

Tapi keraguan sempat menggoda hatinya. Bukan ragu pada kejujuran Muhammad. Sebagai orang yang tumbuh bersama, Hamzah sangat mengenal kejujuran Muhammad. Dia ragu ka­rena jika dia mengikuti Muhammad berarti dia akan mening­galkan agama nenek moyangnya. Dia juga tahu, jika dia me­nerima ajakan Muhammad, dia akan membuang semua tuhan yang kini memenuhi Ka’bah. Bukankah tuhan-tuhan itu sudah memberi kenangan dan kemuliaan pada kaumnya selama ini pikir Hamzah gelisah.

Namun, hati kecilnya juga tidak bisa mengabaikan apa yang dikatakan Muhammad. Bahwa Tuhan yang harusnya di­sembah adalah Allah Swt. Yang sudah menciptakan, menghi­dupkan, mematikan, memberi rezeki termasuk memberi ke­muliaan yang selama ini dibanggakan oleh Hamzah.

Keraguan itu membawanya ke Ka’bah. Setelah thawaf dia pun duduk bersimpuh dan bermunajat pada Allah. Memohon agar diberi tunjuk jalan mana yang harus diambil. Dia juga berharap, Allah menghilangkan keraguan yang mendiami ha­tinya.

Suatu hari Hamzah keluar rumah membawa busur dan panah. Hari itu dia berencana melatih kemampuannya mema­nah. Setelah selesai, dia menuju Ka’bah. Dia ingin melakukan kebiasaannya berthawaf. Tiba-tiba seorang wanita mengha­dangnya dan memberikan kabar yang membuat Hamzah me­lakukan hal besar, menyatakan keimanannya di depan khala­yak Quraisy.

“Wahai Abu Umarah (Hamzah), andai saja Tuan melihat apa yang dilakukan Abu Hakam bin Hisyam (Abu Jahal) kepa­da keponakan Tuan beberapa saat lalu. Muhammad sedang duduk di sana, lalu dia dimaki-maki dan disakiti, sampai mele­bihi batas ” Beber wanita itu pada Hamzah.

Hamzah berpikir dengan tenang, lalu berjalan menuju Ka’bah. Kali ini tujuannya ingin bertemu dengan Abu Jahal. Ternyata, Abu jahal memang sedang berdiri di pintu Ka’bah. Dia terlihat sedang bercengkrama dengan beberapa pembesar Quraisy.

Hamzah terus bergerak mendekati Abu jahal dengan pe­nuh ketenangan. Tanpa aba-aba, hamzah memukul kepala Abu jahal dengan busurnya. “Kamu berani memaki-maki Mu­hammad, sedang aku sudah menjadi pengikutnya. Kalau bera­ni, ulangi makianmu tadi padaku.”

Kekagetan Abu jahal berlipat-lipat. Kaget karena kepalanya yang berdarah ditambah pernyataan keimanan Hamzah. De­mikian juga dengan para pembesar Quraisy yang hadir. Semua seperti kaku di tempat, tak tahu apa yang harus dilakukan.

Ya… Hamzah bin Abdul Muthalib memang sudah menyata­kan keimanannya pada Rasulullah. Hari itu setelah dia berdoa di depan Ka’bah memohon petunjuk. Allah SWT., mengabulkan permohonannya dan menjadikan Hamzah yakin dengan pilih­annya. Kini, laki laki gagah itu sudah berada di barisan Rasulul­lah dan siap membuat gentar kaum musyrik.

Kabar keislaman Hamzah membuat para pemuka Quraisy semakin kalut. Sekarang mereka lebih sering berkumpul dan membuat rencana untuk menghantikan dakwah Muhammad. Bagi Abu jahal sendiri, dengan masuknya hamzah berarti gen­derang perang sudah ditabuh. Dan itu berarti harus ada persiapan untuk menghadapi pengikut Muhammad yang semakin bertambah jumlahnya.

Memang setelah kabar masuknya Hamzah di barisan Ra­sulullah terjadi lonjakan yang cukup pada jumlah orang yang beriman. Apalagi setelah terdengar kabar masuk islamnya Umar bin Khattab ra. Gerbang itu seperti sudah terbuka, dan orang-orang Mekkah pun makin berani menentukan pilihan untuk mengikuti ajaran Muhammad.

Abu jahal yang merasa kondisi makin gawat terus mela­kukan hasutan dan ajakan untuk terus melakukan kekerasan pada pengikut Muhammad. Dia juga mengajak beberapa suku di Mekkah untuk bersama-sama menghabisi Muhammad. Ber­bagai rencana mereka coba lakukan tapi tak satu pun yang ber­hasil. Bahkan kepungan mereka gagal menghalangi hijrahnya Rasulullah ke Madinah.

Perang pun tak bisa dielakkan. Terjadilah pertempuran di perang Badar. Kaum Quraisy menyiapkan 1.000 pasukan un­tuk melibas 313 pasukan umat Islam. Nyatanya jumlah yang tiga kali lipat lebih banyak tidak bisa membawa mereka pada kemenangan. Lihatlah bagaimana mereka pulang ke Mekkah dalam kondisi menundukkan kepala karena kalah.

Di perang itu juga beberapa pemuka Quraisy menemui ajalnya. Di antaranya, Abu jahal, Utbah bin Rabi’ah, Sayibah bin Rabi’ah, Umayyah bin Khalaf. Walid bin Uthbah. dan masih banyak lagi. Hal itu menyalakan api dendam dalam hati ke­luarga yang ditinggalkan. Salah satunya, dalam dada Hindun binti Utbah yang kehilangan ayah serta saudaranya.

Hindun yang merupakan istri Abu Sufyan saat itu belum terkena cahaya iman. Hatinya penuh dendam pada Muham­mad saw., dan Hamzah ra. Apalagi saat tahu, kedua orang yang dicintainya tewas di tangan Hamzah. Dadanya penuh kebenci­an pada orang yang mendapat julukan dari Rasulullah sebagai Singa Aliah.

Perang Uhud di depan mata. Hindun menawari seorang budak yang bernama Wahsyi untuk membunuh Hamzah. Im­balannya, Wahsyi akan mendapat harta berupa anting dan kalung yang berhiaskan permata. Oleh majikannya, jubair bin Muth’im-Wahsyi dijanjikan kemerdekaan. Maka, Wahsyi pun tak sanggup menolak tawaran yang sangat menggiurkan itu.

Menjelang pecahnya perang, Wahsyi terus melatih ke­mampuannya melempar tombak. Dia memiliki kemampuan yang diwarisi dari sukunya dalam menggunakan tombak. Dia memang berasal dari suku Habsyi yang terkenal tidak pernah meleset dengan lemparan tombaknya.

Ketika perang sudah berkecamuk, Wahsyi pun mencari tar­get tombaknya. Saat itu matanya melihat Hamzah tengah ber­gerak menerjang musuh ke segala arah. Saat merasa menda­pat kesempatan, Wahsyi pun melemparkan tombak dari arah belakang Hamzah. Tombak itu menembus punggung bagian bawah hingga ke bagian depan.

Sang Singa Allah telah syahid di medan Uhud. Saat Rasul­ullah memeriksa jenazah para syuhada, Rasulullah amat sedih melihat kondisi tubuh pamannya. Ternyata bukan hanya luka-luka karena tombak, panah, pedang yang ada di tubuh mulia Hamzah, tapi karena dadanya yang robek dan hatinya sudah diambil. Masyaallah!

Memang, Hindun bukan hanya menyuruh Wahsyi meng­habisi Hamzah. Hindun meminta Wahsyi membawakan hati Hamzah. Begitu dalamnya dendam yang menghuni hati Hin­dun sehingga tidak cukup dengan mengirim orang untuk me­nombak Hamzah dari belakang, tapi juga merusak tubuhnya. Naudzubillah min dzalik!

Rasulullah sempat merasakan kesedihan dan kemarahan yang begitu besar saat itu. Tapi Allah mengingatkan Rasulnya dengan ayat Al-Qur’an yang turun saat itu juga. Bahwa bo­leh saja membalas kepada orang yang sudah merusak tubuh Hamzah, tapi Allah memberikan jalan yang lebih baik dengan bersabar. Maka Rasulullah pun memilih bersabar dengan per­tolongan Allah Swt

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang haik. Bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan  mengetahui

orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi, jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaran itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap kekafiran mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan (QS. An-Nahl: 125-128)

Rasulullah memberikan penghormatan tertinggi pada Hamzah dengan menshalatinya sebanyak jumlah sahabat yang gugur di Medan Uhud. Rasulullah dan para sahabat menshalati jenazah Hamzah, lalu tubuh seorang syahid diba­wa masuk ke dalam tempat shalat. Rasulullah dan para saha­bat menshalati jenazah itu. Setelah selesai, jenazah tadi diba­wa keluar sementara jenazah Hamzah tetap tinggal. Satu per­satu jenazah para syahid di shalati bersama jenazah Hamzah. Begitu seterusnya hingga Hamzah dishalati sebanyak 70 kali.

Pantaslah kalau Hamzah disebut juga sebagai panglima para syuhada. Bukan hanya semasa hidup dia selalu berada di garis depan. Namun, saat gugurnya pun dia mendapatkan penghormatan di atas seluruh para syuhada. Subhanallah. Maha Suci Allah.