Muhammad bin Zakaria ar-Razi (Rhazes) adalah seorang dokter, serta ahli kimia dan filsafat. Ia telah menulis dua ratus judul buku mengenai kedokteran. Di antaranya adalah Al-Mansuri (diterjemahkan menjadi Liber Almamoris pada abad ke-15), yang terdiri atas 10 jilid. Selain itu, ia juga menulis Al-Judari al-Hasbah (penyakit cacar dan campak).

Selain Ibnu Sina (Avicenna) yang dikenal sebagai perintis awal ilmu kedokteran, Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Ar Razi (lebih dikenal dengan nama Ar- Razi) juga dianggap sebagai perintis kedokteran modern. Ia mendapat gelar Gale (pakar bedah Yunani).

Ar-Razi dilahirkan di Bandar ar-Rayy, utara Teheran, Iran, pada 864 M. Dan, ia meninggal dunia pada 924 M. Sejak kecil, ia telah menunjukkan minat yang besar terhadap ilmu pengetahuan. Ia mempelajari pengobatan setelah berusia 30 tahun.

Meskipun demikian, Ar-Razi yang dididik dan dibesarkan dalam lingkungan agama yang ketat, sebenarnya baru tertarik dan menekuni secara serius masalah-masalah kedokteran justru saat ia tua. Hanya saja, walaupun keseriusannya terhadap disiplin ilmu yang satu ini telah ada sejak muda, kepakaran dan kejeniusan Ar-Razi di bidang kedokteran jauh melam¬paui keahliannya pada masa tua. Hal inilah yang menempatkan dirinya di deretan ilmuwan muslim yang sangat disegani dan dihormati di dunia Barat.

Sebagian ahli sejarah menyebutkan bahwa Ar Razi sebenarnya telah menggeluti filsafat, kimia, matematika, dan kesusastraan sejak muda. Mengutip pernyataan ahli sejarah bernama Ibnu Khallikan, serta seorang penulis biografi Barat, A J. Aberry dalam pengantar buku Ar-Razi, The Spiritual Physic of Rhazes (Penyembuhan Ruhani), “Pada masa mudanya, Ar-Razi gemar main kecapi dan menekuni musik vokal. Namun, ketika beranjak de¬wasa, ia meninggalkan hobi¬nya ini seraya mengatakan bahwa musik yang berasal dari daerah antara kumis dan jenggot tidak punya daya tarik dan pesona untuk dipuji dan dikagumi.”

Sejak itulah, beberapa referensi menyebutkan bahwa Ar-Razi lebih memfokuskan dirinya pada tradisi intelektualisme di bidang filsafat, logika, eksakta, dan kedokteran.

Di bidang kedokteran inilah, ia benar-benar berkonsentrasi dan serius menggeluti bidang ini. Bahkan, ia rela meluangkan waktu pergi ke Baghdad, Irak, guna memperdalam ilmu kedokteran. Kala itu, Baghdad pada masa puncak keemasan intelektualisme.

Di kota Baghdad, Ar-Razi berguru kepada Huma¬yun Ibnu Ishaq, seorang ulama yang menguasai ilmu pengobatan dengan baik. Dari guru yang telah lama berpraktik di bidang pengobatan inilah, Ar-Razi menguasai dasar-dasar teknik pengobatan dengan baik.

Sekembalinya dari Baghdad, Ar-Razi memutuskan untuk membaktikan dirinya kepada masyarakat, khususnya di bidang kedokteran yang selama ini ia tekuni. Dalam waktu yang tidak lama, lantaran ketekunannya, ia memperoleh perhatian khusus dari penguasa setempat.

Berkat reputasi dan kelebihannya itulah, pemerintah memutuskan untuk memberi amanat kepada dirinya untuk memimpin sebuah rumah sakit di Teheran. Selain menjadi dokter, tokoh yang dikenal pula dengan kerendahan hatinya ini juga mengoptimalkan pengabdiannya dengan mengajar.

Di tengah-tengah keseriusannya dalam menekuni ilmu kedokteran, Ar-Razi yang semakin tua terserang penyakit katarak hingga membuat matanya buta. Penglihatannya praktis tak berfungsi. Ketika ia dianjurkan untuk berbekam, konon Ar-Razi menjawab, “Tidak, aku sudah sedemikian lama melihat seluruh dunia ini sehingga aku pun lelah karenanya.”

Pengabdian dan kejeniusan Ar-Razi telah diakui oleh dunia Barat. Banyak ilmuwan Barat menyebutnya sebagai pioner terbesar dunia Islam di bidang kedokteran.

“Razhes (Ar-Razi) adalah tabib (dokter) terbesar di dunia Islam, dan salah satu yang terbesar sepanjang sejarah,” ungkap Max Mayerhof.

Sementara itu, seorang sejarawan Barat terkenal, yakni George Sarton, mengomentari Ar-Razi dengan cerdas sekali. Ia berkata, “Ar-Razi yang berasal dari Persia itu tidak hanya sebagai tabib terbesar di dunia Islam dan Abad Pertengahan. Ia juga bertindak sebagai kimiawan dan fisikawan. Ia dapat dinyatakan sebagai salah seorang perintis latrokimia pada Masa Renaissance. Ia memang hebat dalam teori. Ia berhasil memadukan pengetahuannya yang luas melalui kebijaksanaan Hippokratis.”

Berkat jasa Ar-Razi, sudah sepantasnya bila kita merasa berutang budi kepadanya dan kita mesti berterima kasih kepada sosok ini.