Dari namanya, sudah bisa ditebak kemuliaan apa yang dimiliki Abdullah yang satu ini. Dia memang putra dari khalifah hebat Umar bin Khattab ra., sehingga sering juga di­panggil Ibnu Umar. Dirinya beriman sejak masih belia dan ikut hijrah ke Madinah bersama ayah tercinta. Saat itu tidak seorang pun dari masyarakat musyrik Mekkah yang berani meng­halangi anak dan ayah ini pergi berhijrah.

Saat usianya 13 tahun, keistimewaan Abdullah terlihat lagi. Dia memaksa ingin ikut perang Badar. Jiwa mudanya merasa terpanggil untuk berperang bersama Rasulullah. Sayang, Ab­dullah ditolak karena belum cukup usianya. Sejak saat itu dia berusaha menambah keistimewaan yang ada dalam dirinya. Hingga Aisyah ra., pun sampai berujar, “Tidak ada seorang pun yang ber-i’tiba (mengikuti) Rasulullah seperti i’tiba-nya Ibnu Umar.”

Ingin tahu seperti apa i’tiba-nya IbnuUrnar? Pernah suatu hari dia melihat Rasulullah shalat di suatu tempat, maka itu dilakukan juga. Rasulullah pernah berdoa sambil berdiri di sebuah tempat, Ibnu Umar pun melakukan hal yang sama. Bahkan Rasulullah pernah menghentikan kudanya di suatu tempat, lalu shalat dua rakaat maka saat melintasi tempat tersebut Abdullah bin Umar melakukan juga.

Saat usianya remaja, Ibhu Umar pernah bermimpi. Mim­pi inilah yang menjadi alasan kenapa dia sangat rajin shalat malam. Dalam mimpinya, dia mendapat selembar kain be­ludru. Ajaibnya, kain beludru itu bisa membawanya terbang ke tempat mana pun dalam surga. Tiba-tiba ada dua orang yang mendekati dan hendak membawanya ke neraka. Lalu seorang malaikat menghentikan sambil berkata, “Jangan ganggu dia!”

Ibnu Umar menceritakan mimpinya pada saudaranya. Hafsah binti Umar bin Khattab, yang tak lain istri Rasulullah. Hafsah ra. pun menceritakan tentang mimpi saudaranya itu pada Rasulullah. Rasullah berkata, “Abdullah sangat beruntung, jika dia mau memperbanyak shalat malam.”

Sejak saat itu, Ibnu Umar terkenal sebagai orang yang tidak pernah meninggalkan shalat malam, bahkan ketika dia sedang dalam perjalanan. Itu adalah keistimewaan yang menambah kemuliaan dirinya di hadapan Allah SWT.

Sama seperti ayahnya, Ibnu Umar terkenal sebagai orang yang berhati-hati alias wara’, baik dalam menerima jabatan maupun dalam menyampaikan hadits. jika dia tidak yakin pernah mendengar langsung dari Rasulullah, dia tidak berani menyampaikan. Karena dia takut akan menambahi atau me­ngurangi walau sedikit saja.

Hebatnya lagi, Ibnu Umar tidak malu berkata ‘saya tidak tahu’ saat ada pertanyaan yang memang dia tidak tahu persis jawabannya. Padahal dia terkenal dengan ilmunya yang luas. Dia juga berhati-hati dalam berfatwa atau memutuskan suatu perkara hukum. Karena alasan itulah Ibnu Umar menolak ja­batan hakim agung di masa Khalifah Ustman ra.

Lihatlah bagaimana dia berpakaian. Dia memilih mencon­toh ayahnya, Umar bin Khattab ra. Berpakaian sederhana tidak berlebihan. Suatu hari Ibnu Umar pernah menolak hadiah pa­kaian dari seorang temannya, hanya karena pakaian itu amat halus dan terlihat sangat indah. “Maaf aku tidak bisa meneri­ma ini. Aku takut diriku akan menjadi sombong jika memakai pakaian sebagus ini. Dan Allah tidak suka pada orang-orang yang sombong.”

Demikian juga dalam hal mengisi perut. Ibnu Umar tidak pernah makan sampai kenyang selama hampir 40 tahun. Dia sering sekali mengundang orang-orang miskin untuk makan bersama di rumahnya. Di lain waktu dia akan mengajak anak-anak yatim untuk bersantap bersama. Itulah kenapa sosoknya amat terkenal di antara orang-orang miskin.

Tentang kebiasaannya ini, Ibnu Umar pernah menasihati anaknya saat sang anak mengadakan jamuan makan untuk orang-orang kaya. “Kalian undang makan orang-orang yang kekenyangan dan kalian tinggalkan orang-orang yang kelapar­an. jangan seperti itu …”

Satu lagi yang patut dicontoh, yaitu sifat dermawan dan kepeduliannya pada kaum miskin. Sebagai seorang pedagang, penghasilannya sangat cukup. Bahkan bisa dibilang berlebih. Tunjangan dari pemerintah Islam juga cukup untuk membuat hidupnya nyaman. Tapi dia bukanlah tipe orang yang mau ber­mewah-mewah dalam hidupnya. Dia selalu berprinsip bahwa dalam hartanya ada hak-hak orang miskin yang harus dikeluarkan.

Pernah suatu hari dia mendapat tunjangan dari Baitul Mal sebesar 4 000, dirham. Sesampainya di rumah, dia memba­gikan semua harta yang didapatnya pada kaum miskin yang membutuhkan. Tidak tersisa sedikit pun untuk diri dan kelu­arganya. Bahkan untuk membeli makanan untuk esok harinya, Ibnu Umar sampai berutang di pasar.

Ada satu peristiwa penting setelah Khalifah Ustman ra meninggal. Sekelompok kaum mukminim memintanya men­jadi khalifah. “Wahai Ibnu Umar, engkau adalah seorang pe­mimpin dan putra dari seorang pemimpin. Kami ke sini hen­dak berjanji setia padamu.”

Ibnu Umar menolak dengan mengajukan syarat yang sa­ngat berat, yaitu agar seluruh umat Islam setuju dengan peng­angkatannya. Kenapa syarat itu berat? Karena waktu itu wila­yah Islam sudah berkembang sangat luas, bahkan sampai ke daratan Eropa.

Meskipun begitu, bukan berarti Ibnu Umar tidak peduli terhadap kondisi umat Islam. Dia tetap menunjukkan kebe­raniannya dengan nasihat saat melihat kemungkaran. Hanya saja dia tidak mau menyakiti apalagi sampai menumpahkan darah sesama muslim. Itu yang paling dia hindari. Sehingga dia pernah berkata, ”Siapa yang mengajakku untuk shalat, aku penuhi. Siapa yang mengajakku menuju kebahagiaan, aku pe­nuhi. Dan siapa yang mengajakku untuk membunuh saudara sesama muslim dan merampas hartanya, maka aku akan me­nolaknya.”

Ibnu Umar dikaruniai usia yang cukup panjang. Dia meng­alami pergantian beberapa khalifah. Ada yang mengatakan bahwa Ibnu Umar hidup sampai Bani Ummayyah berkuasa. Dia mengalami berbagai perkembangan umat Islam, dari mu­lai perluasan wilayah sampai konflik yang membuat umat ter­pecah belah. Di tahun 73 H, dia menutup mata. Maka, hilang­lah satu lagi dari generasi sahabat yang mengalami dua masa Mekkah dan Madinah.